Hari Yang Berat

January 31st, 2008 by ngodod

Kemarin, hari Kamis di ujung Januari 2008, menjadi hari yang
berat bagiku. Siang hari, di Perempatan Gondomanan, aku mendapat telpon dari
seorang rekanan pekerjaan di masa lalu. Dia mengabarkan bahwa proses audit
laporan keuangan tugas masa laluku akan diaudit lagi dokumen-dokumennya. Karena
menurut mereka, sample yang diambil kurang bisa mewakili. Intinya, mungkin aku
harus ke

Jakarta

lagi dalam waktu yang cukup lama.

Kedua, rapat evaluasi bulanan kantor. Aku mendapati,
ternyata tanggungan pekerjaan menumpuk setinggi Gunung Bromo, dengan deadline
yang (cukup) ketat. Aku harus banyak berkonsetrasi, dan lebih focus.

Ketiga, tiba-tiba saja, malam harinya aku harus kehilangan
separuh hatiku…dan separuh penyemangat hidupku…

Dan malam harinya, aku kesulitan tidur. Baru bisa tidur jam
setengah dua malam, dan terbangun tiap dua jam sekali. Ah…, bukankan seorang
pecinta kebijakan harus bisa berpikir dengan jernih, dengan menekan perasaan.

Bekas Baca “Bayang-bayang”

January 30th, 2008 by ngodod

Aku tak mau…, benar-benar tak mau. Terasing dari
pekerjaanku. Melakukan sesuatu karena semata memohon mendapat upah berupa
segelintir, atau bahkan segepok, mungkin juga segerbong uang.

Aku tak mau. Kemudian apa yang aku kerjakan itu menghasilkan
sesuatu. Sesuatu yang kemudian pula hilang begitu saja, berpindah tangan.
Sedang aku masih terpaku merasa tak ikut “memiliki”-nya. Tak pernah merasa
“kehilangan”-nya. Apalagi tidak merasa bahwa yang aku hasilkan itu memang
benar-benar berguna dan dibutuhkan oleh yang “mempunyai”-nya saat ini. Kata
Karl Marx, itulah keterasingan.

Aku tak mau menjadi bagian dari kerumuhan orang dungu itu. Hidup
hanya sekedar bertahan hidup. Aku tak mau, ada atau tak adanya aku, dunia akan
sama saja. Kata Nietzsche, aku harus “melampaui manusia”. Melepaskan diri dari
gerombolan orang dungu. Merubah diri dari menjadi unta, untuk kemudian menjadi
singa.

Ah.., memang enak menjadi anak-anak. Memang benar kata Nietzsche,
dengan menjadi anak-anak kita menjadi merdeka dan bebas. Kita boleh melakukan
apa saja, berkreasi dan bermimpi apapun. Auman liar singa harus dihentikan
dengan mengada menjadi seorang anak.

Hm…, tapi seorang malaikat berbadan manusia membangunkanku.
Memaksaku untuk berhenti bermimpi sesuka hatiku. Ketika malaikat itu melepaskan
pandangannya dariku, ku benturkan kepalaku ke tembok keras-keras sambil
mengatai diri sendiri, “Dasar bodoh tidak berguna…!!!”

Kita Takkan Pernah Sendiri

November 14th, 2007 by ngodod

Terkadang, saat tiba-tiba saja aku merasa
sendirian. Tanpa teman menapaki jalanan kehidupan. Mencoba membuat mimpi-mimpi
jadi nyata. Saat dimana terkadang rasa lelah juga mendera, menghunjamkan elan
semangat hidupku samapi pada titik nadir. Saat itulah saat yang terbaik bagiku
untuk menengok kembali ke belakang. Sekedar meniti sejarah.

Lagu adalah sumber inspirasi terbaikku, sumber
kontemplasi paling mudah, simpel namun penuh makna dan dalam. Ebiet, Iwan Fals,
dan sekarang ditambah dengan Letto, merupakan teman setia. Mendengar senandung
mereka membuatku serasa seperti ponsel yang baterainya baru saja diisi ulang.
Penuh, luber…

Ketika mendengat alunan lagu mereka, aku
kembali tak merasa sendiri. Merasa sebagai orang paling bodoh di dunia jika aku
merasa sendirian. Merasa menjadi orang paling bodoh jika aku menyerah dan
mengaku kalah pada kehidupan. Hidup adalah roda, ada saat dimana kita berada di
titik paling bawah. Ada saat pula dimana kita berada di atas.

“Lihatlah ke bawah..!!!” itulah pesan yang
paling sering kudengar. Dengan melihat ke bawah, melihat orang yang lebih tidak
beruntung daripada kita, kita akan selalu merasa dinaungi keberuntungan dan
bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang. Jadi…, tetap semangat..!!
Ganbatte..!! You’ll Never Walk Alone.

Laki-laki Terbaik

November 13th, 2007 by ngodod

“…women come with bad boys, but go home with good boys…”

“…seorang laki laki ketika berada di hadapan perempuannya
tugasnya hanya satu : memberi solusi, dalam bentuk aksi.”

Ada dua macam tipe laki-laki, tipe pertama adalah laki-laki yang baik-baik saja, lurus-lurus
saja.  Meskipun mungkin ia tidak terlalu
mengkilap prestasinya di sekolah, namun ia lulus tepat waktu. Ketika lulus dan
bekerja, slip gaji bulanannya menunjukkan angka yang “jelas”, tidak naik turun
seperti roller coaster. Ia tidak pernah bertingkah aneh bin ajaib. Kalaupun toh
ikut demo, ia bisa ditemui di barisan tengah atau belakang.

Tipe kedua adalah Si “Anak Nakal”. Menyukai hal-hal yang menantang
batas. Penikmat ketegangan yang muncul dari ketidakpastian. Selalu terus
berusaha menembus zona nyamannya. Bahkan mungkin melakukan tindakan-tindakan “bodoh”
yang tak berani dilakukan orang lain. Anak “bandel” yang sering membangkang
pada kemapanan.

“…women come with bad boys, but go home with good boys…”

“…seorang laki laki ketika berada di hadapan perempuannya
tugasnya hanya satu : memberi solusi, dalam bentuk aksi.”

Bagaimanapun, harus kita akui, sistem sosial yang menggambarkan
peran gender ideal laki-laki dan perempuan yang sudah tertanam lama selama
berabad-abad tak mampu dirubah dalam sebuah bentuk perjuangan sporadis,
mood-mood-an, ataupun asal ikut trend. Perubahan itu meniscayakan sebuah bentuk
perjuangan yang sistematis, terukur dan membutuhkan waktu yang panjang.

Laki-laki yang cerdas akan mampu mengkompromikan sisi “kebandelannya”
dengan sisi “anak mamanya”. Laki-laki yang hebat takkan pernah kehilangan ruh “kebandelannya”,
namun takkan pernah membiarkan keluarganya terbengkalai tak terurus. Laki-laki
terbaik adalah laki-laki yang mampu menemukan sebuah chemistry yang terindah. Sebuah
perpaduan hasil kompromi yang lahir dari tempaan sejarah.

TIDUR LEBIH LARUT dan BANGUN LEBIH AWAL

November 8th, 2007 by ngodod

Apa tanda-tanda produktifitas? Aku memaknai jawabannya dengan salah satu simbol, TIDUR LEBIH LARUT dan BANGUN LEBIH AWAL. Ketika aku kuliah dulu, aku seringkali jatuh ke pera duan ketika jam menunjukkan kurang lebih pukul sepuluh atau sebelas malam. Kemudian keesokan harinya aku terbangun sekitar pukul lima pagi. Aku mencoba memperbaiki ritme hidupku, dengan mengurangi jam tidurku. tingkatkan kualitas tidurnya, bukan kuantitas waktunya.

Saat ini setiap hari aku berusaha untuk tidur sekitar pukul dua belas malam dan keesokan harinya sudah bersiap melawan roda kehidupan ketika jarum jam menunjukkan pukul empat pagi. Memang aku masih belum terlalu efektif menghabiskan waktuku. Belum terlalu optimal. Bahkan terkadang masih ada waktu yang menuruku terbuang sia-sia. Namun aku tetap berusaha positif. Berusaha menjalankan semuanya langkah demi langkah. Sekarang atau tidak sama sekali.

[baru nyadar kalo malam ini aku kurang tidur. padahal aku harus nyopirin mobil Jogja-Muntilan -Tawangmangu-Jogja. edan.... ah, yang penting susu beruang aja deh... huehehehehe]

That’s why I love open source….

November 5th, 2007 by ngodod

Pagi ini, aku masih terngiang-ngiang dengan keinginan untuk
men-dumping database web Muhammadiyah yang selama beberapa hari ini ingin
kulakukan, namun selalu gagal karena nggak tahu halaman phpmyadmin-nya. [dasar odong
katrok..!!! memalukan]

Di luar dari itu, sebenernya aku juga lagi pengen liat
file-file yang ada di hosting. Ya..,
cara paling mudah, aman dan cepat dengan make FTPClient. Untuk yang satu ini aku
adalah penggemar berat Filezilla.

Tapi di saat yang
bersamaan, aku juga sedang browsing portable application. Pengennya sih nyari
buat disk image. Nyarinya sih di sini. Namun apa daya setelah kujelajahi
seluruh halaman web tersebut, aku tak menemukannya. Aku malah menemukan ini,
sebuah Firefox extension buat FTPClient. OMG, I can’t believe this thing
happen
. Firefox emang luar biasa. IE ke laut aje… wekekeke…

[lagi nggak sabar
nunggu extension apa lagi yang muncul di Firefox]

Merubah Kotak Impian

November 4th, 2007 by ngodod

Laki-laki memang laki-laki dan laki-laki tetaplah
laki-laki. Meskipun aku telah “bekerja keras” selama bertahun-tahun, mencoba
merubah dan merekonstruksi isi otakku dan orang-orang disekitarku, tentang apa
arti laki-laki dan perempuan. Tetap saja aku selalu menemui hal ini lagi.
Sebuah padangan klise dan “konservatif” mengenai bagaimana seharusnya laki-laki
dan perempuan. Sebuah pandangan yang
dianggap merupakan sebuah kebenaran mutlak, tak tergantikan, sadar atau tidak.

Aku tak kan mampu membuat tawar air laut. Yang ku mampu hanyalah
menyuguhkan secangkir teh saja.

Kotak impian yang dulu terbang tinggi,
kugantungkan tinggi di awan, sekarang harus kubawa kembali ke bumi. Kususun
ulang isinya, memilah-milahnya menjadi beberapa bagian. Mengeluarkan isi yang
tidak penting, yang hanya merupakan utopia saja. Dengan ruang kosong yang
tersedia, kumasukkan mimpi-mimpi lain yang jauh lebih mungkin kujalankan.
Setelah kotak itu terisi kembali. Kuangkat kembali kotak impian itu. Namun
sekarang, aku tak menggantungkannya di langit. Aku hanya meletakkannya di atas
kepalaku. 5cm di
atas kepalaku. Sehingga aku masih tetap akan terus melihatnya. Sehingga aku
akan tetap selalu mengingatnya. Sehingga aku akan tetap lebih mudah
menggapainya. Dan sehingga aku akan tetap bisa membuatnya menjadi nyata.

Dan ada guna hidup tanpa mimpi. Tak ada
guna hidup tanpa beramal. Tak ada guna hidup hanya untuk memikirkan diri
sendiri. Namun juga merupakan sebuah kebodohan yang luar biasa, menyerahkan
seluruh hidup kita untuk orang lain. Hanya butuh sedikit kebijaksanaan. Hanya
butuh sedikit kemauan untuk berpikir agak cerdas. Hanya dibutuhkan kemauan
untuk bersikap rasional.

Aku takkan mampu merubah dunia. Aku
benar-benar menyadari itu. Aku harus mengakui aku telah ”kalah” dengan
realitas. Aku ”dikalahkan” oleh kenyataan. Namun aku tetap berpikir positif.
Aku hanya sekedar kalah dalam sebuah pertempuran, bukan kalah dalam sebuah
peperangan. Peperangan masihlah panjang. Sepanjang peradaban manusia mampu
kulihat dari mata elangku.

Maka aku tetap bermimpi. Dengan mimpi yang
lebih mungkin. Dengan mimpi yang lebih nyata. Dengan mimpi yang mampu bernyanyi
seirama dengan alunan musik dunia. Dengan mimpi yang mampu mengalun senada
orkestra kehidupan nyata.

Aku tetap ingin menjadi elang.
Aku tetap ingin terbang tinggi. Namun aku juga ingin tetap mampu melihat bumi.
Dan di tiap sore, aku akan tetap
kembali ke sarangku. Sarang dimana tempat keluarga menungguku. Sarang dimana
sudah kusiapkan hanya untuk seorang perempuan dan para pejuang kehidupan yang
lahir dari rahimnya.

 

STATUS (ato KEMAPANAN): dicari ato dibuat?

November 3rd, 2007 by ngodod

Beberapa hari yang lalu, aku bertemu
dengan seorang pengajar di salah satu SMP Negeri favorit di Yogyakarta.
Kebetulan sekolah itu juga merupakan Sekolah Standar Nasional. Tak begitu lama
kami berbincang, dan ketika mendekati akhir perjumpaan, beliau mengungkapkan sebuah
pertanyaan (standar) yang sudah lama tidak aku dengar kembali. “Ada bukaan PNS
Depag
tuh. Gak ikut daftar?” Aduh.., sekonyong-konyong aku berusaha nggak
merubah raut mukaku. Masih tetep berusaha menempelkan seutas senyum di wajahku.
Kenapa pertanyaan ini lagi batinku.

Dengan jadi PNS, status seseorang jadi jelas.
Jelas (tetap) gajinya di tiap akhir bulan. Masa tuanya jelas terjamin karena
dapat pensiun. Jelas (tetap) jam kerjanya, mulai dari jam segini sampai jam
segitu. Jelas (tetap) pula pekerjaan dan tangung jawabnya. Jelas (tetap) naik
pangkat dan gajinya. Pegawai kantoran lainnya…? aku kira itu sesuatu yang
nggak beda.

Memang lebih enak, mudah dan cepat kalo
status itu dicari, dikejar-kejar. Karena kita mengejar sesuatu yang jelas,
riil, konkrit. Ukuran keberhasilannya pun jelas. Iya atau tidak.
Konsekuensi-konsekuensinya pun jelas.

Tapi…, bagiku membuat status itu lebih
mengasyikkan, menantang. Sebuah tantangan yang bagiku berbanding lurus dengan
hasilnya, dengan kepuasan yang dihasilkannya. Ukuran kepuasannya bukan sekedar
material, tetapi lebih dari itu. Mewujudkan impian, tak kan pernah terhitung
kepuasannya.

Kemerdekaan tak pernah datang dengan cara
yang mudah kan…

Tidak Hanya Sekedar Bermimpi

August 18th, 2007 by ngodod

Ada suatu ketika, dimana seorang teman dekat mengajarkan dan meyakinkan aku akan pentingnya mempunyai sebuah mimpi. Sebuah mimpi yang benar-benar tinggi. Sebuah mimpi yang benar-benar akan membuatku akan terus berlari.

Namun ternyata, hidup tak hanya dibuat dari sebuah mimpi saja. Dalam hidup dibutuhkan sebuah kedewasaan. Kedewasaan untuk mampu sampai sejauh mana kita bermimpi. Kedewasaan untuk mampu mengerti dan memahami bagaimana cara untuk menggapai mimpi-mimpi itu. Dan aku menemukan diriku disini, dengan segala keberanian yang telah kukumpulkan untuk mengakui, bahwa aku masih belum cukup dewasa untuk bermimpi. Sebuah mimpi yang sesungguhnya.

Indonesia vs Saudi Arabia (Asian Cup 2007); MU vs Bayern Munchen (UCL Final 1998/1999)

July 14th, 2007 by ngodod

Even I’m a Chelsea fan, till now I can’t forget this moment. It’s make me can still smiling and not feels very sad although Indonesia lost 2-1 against Saudi Arabia. I think, Muenchen fans did much felt hardly sad than I am.
Btw, i got this commentary transcript from here.

**

The 1999 European Cup Final
26th May 1999 Nou Camp Barcelona

Manchester United 2 Bayern Munich 1
MU:
Sheringham 90, Solskjaer 90
Muenchen:
Basler 5

Here is a transcript of the dramatic moments that won United the
European Cup from ITV, the commentator is Clive Tyldesley Time
Commentator

(United have a corner, Beckham to take.)
90.21 Can Manchester United score? They always score.
Beckham…….
In towards Schmeichel……its come for Dwight Yorke
Cleared………..Giggs with the shot
90.35 SHERINGHAM! (Sheringham scores)

NAME ON THE TROPHY!

91.15 As things stand we will go into extra time with a golden
goal hanging like a massive shadow over this final unless Ole Solskjaer
can find another……

(United have another corner, Beckham to take)

Is this their moment?
92.13

92.17 Beckham……
Into Sheringham…..
AND SOLSKJAER HAS WON IT! (Solskjaer scores)
Manchester United have reached the promised land, Ole Solskjaer, and
the two substitutes have scored the two goals in stoppage time and the
Treble looms large.

93.33 (Final whistle blows)
History is made, Manchester United are the Champions of Europe again
and nobody will ever win a European Cup final more dramatically than
this. Champions of Europe, Champions of England, the FA Cup holders,
everything their hearts desire. United fans will ask where did you
watch the 1999 European Final? Where did you see Ole Solskjaer win it
with virtually the last kick of the final?

Susunan Pemain:
MANCHESTER UNITED: Schmeichel, G.Neville, Irwin, Johnsen, Stam,
Beckham, Butt, Cole (Solskjaer 81), Giggs, Blomqvist (Sheringham 67),
Yorke
Subs Not Used: Van Der Gouw, May, P. Neville, Brown, Greening

BAYERN MUNICH: Khan, Babbel,Kuffour, Matthaus (Fink 79),Effenberg,
Basler (Salihamidzic89), Jeremies, Tarnat, Jancker, Zickler (Scholl
70), Linke
Subs Not Used: Dreher, Helmer, Strunz, Daei. Booked: Effenberg